Berhasil menulis sebuah buku, dengan ketebalan di atas 100 halaman, terang adalah satu peristiwa besar tersendiri. Bagi penulis seperti saya, itu bagian dari eksistensi. Sedang bagi kalangan tertentu, seperti PNS, buku sangat signifikan mendongkrak karier dan jabatan. Masalahnya adalah, mayoritas dari kita yang nonpenulis tak pernah merasa siap untuk mulai menulis sekalipun pengiiiin banget.
Padahal situasi dunia perbukuan sekarang ini tidak lagi seseram pada masa lalu, di mana satu-satunya tempat untuk membuatnya ada (alias terbit) hanyalah lewat penerbit gede semacam Gramedia dengan tingkat seleksi yang demikian mengerikan. Pada zaman ini, kita bisa menerbitkan buku secara independen, tergantung bujet. Bisa juga melalui platform penerbitan digital semacam Webcomics atau Comico dengan taraf seleksi yang tak seberat penerbit major cetak. Bahkan platform lain sejenis Wattpad atau Storial sangat gampang dengan mekanisme semacam blog, yaitu kita sendiri yang “terbitin”.
Dan langkah-langkah persiapan untuk menuju ke sana pun sesungguhnya tak terlalu menyeramkan. Sekadar info, novel saya pilih karena ini merupakan format penulisan buku dengan tingkat kesulitan tertinggi. Jadi deretan tips ini bisa dikuasai, dirimu akan bisa menulis buku jenis lainnya.
1-Baca dan Baca
Persiapan paling awal untuk menulis novel sudah tentu adalah dengan membaca, baik sebagai kebiasaan maupun dalam rangka brainstorming. Tak ada tulisan tanpa membaca terlebih dahulu. Bahkan saat aktivitas menulis semakin intens, kualitas dan kuantitas bacaan juga harus ikut meningkat.
Triknya adalah membaca dulu novel-novel yang saat ini populer, viral, dan masuk daftar top 10 best seller di toko-toko buku. Apa tujuannya? Untuk tahu tren. Bacaan ngepop seperti apa yang saat ini sedang disuka. Sesudah itu, kita beralih membaca karya-karya yang berkategori tinggi, semacam karya-karya Hemingway, Tolstoy, Murakami, Arswendo, Pram, Ayu Utami, ataupun yang sejenisnya Mario Puzo dan George RR Martin.
2-Menentukan Jenis Novel
Kenyang membaca akan membuat kita sedikit banyak tahu akan menulis novel yang seperti apa. Roman yang cheesy, misteri yang rumit, horor yang mencekam, fantasi yang imajinatif, atau mengarah ke sastra tinggi. Pilihannya bisa berdasar atas selera pribadi, atau bisa juga karena akan mengikuti dulu selera pasar.
Yang tergampang sebenarnya adalah cukup menulis cerita yang selalu disukai pada zaman apa juga, yaitu kisah cinta. Ini tema yang timeless sejak era Romeo & Juliet hingga zaman Dilan sekarang ini. Dan jenis ini relatif mudah dikerjakan karena kita bahkan bisa mengambil kisah cinta kita masing-masing sebagai ide cerita.
3-Belajar Bahasa
Novel yang baik adalah yang ditulis dengan bahasa yang baik pula. Dan bahasa tulis yang bagus cukup berawal dari kedisiplinan berbahasa, sesuai kaidah EBI (Ejaan Bahasa Indonesia). Bahwa tulisan karya fiksi harus “unik dan menarik” dengan tokoh-tokoh yang “tidak biasa”, itu nanti tergantung kebiasaan dan konsistensi menulis, tapi hal yang pertama harus dipegang adalah bagaimana berbahasa (tulis) sebenar dan sebaku mungkin.
Cara belajarnya bagaimana dan lewat mana? Dari buku-buku yang dibaca itu tadi. Amati cara penggunaan huruf besar dan tanda baca di sana. Dengan apa satu kalimat dihubungan dengan kalimat berikutnya. Lalu pelajari juga kaidah penulisan Bahasa Indonesia yang paling baku (atau follow akun Twitter Ivan Lanin!). Lama-lama kita akan tahu teknik baku penulisan itu seperti apa.
4-Menentukan Cerita
Satu hal yang sering membuat para penulis pemula berat saat hendak berangkat nulis adalah mencari ide. Biasanya karena ide cerita tetap tidak ketemu meski sudah dicari dengan semedi, kungkum, atau bahkan memberikan sesaji pada pohon beringin!
Well, istilah yang benar bukanlah “nyari ide”, tapi “menentukan ide”. Bahan cerita tergampang sebenarnya sudah ada, hanya tinggal dipilih dan ketuk palu. Misal cerita tentang sahabat jadi pacar, cinta segitiga, cinta terbentur adat atau ortu, drama rumah tangga perselingkuhan, dll. Tema-tema itu terus disuguhkan dalam genre romance dan tak pernah usang. Tak pernah pula ada tuduhan plagiarisme sekalipun dua pengarang sama-sama muncul dengan tema cerita yang sama persis, misalnya soal sahabat jatuh cinta, misalnya.
Atau langsung tentukan saja mana di antara kisah-kisah cinta kita yang akan dinovelkan. Tak punya kisah cinta? Ngenes men…
5-SInopsis
Langkah berikut setelah menentukan bahan untuk dinovelkan adalah membuat cerita komplet untuk itu. Kita musti melengkapi struktur penceritaannya: ada pengenalan, ada kenaikan tensi, masalah makin gawat, tokoh utama terlibat kesulitan, klimaks konflik, dan selesaian menuju ending. Dapat pula dipikirkan mengenai plot twist, alias kejutan tak terduga dalam cerita yang membuat pembaca kaget.
Pada contoh tentang sahabat jatuh cinta, ceritanya bisa disusun seperti ini: Rafa dan Yayuk sahabatan sejak kecil, dua-duanya kemudian sama-sama suka tapi dipendam. Rafa lalu nekad akan nembak, tapi pas datang ke rumah Yayuk, ternyata Yayuk didatangi Agus (bos Rafa) yang mau pedekate (ada plot twist di sini).
Rafa stres karena di kantor, Agus curhat soal Yayuk padanya (ironi, komedi situasi). Lalu Rafa memergoki Agus ternyata kaya raya karena jualan narkoba (plot twist lagi!). Saat tahu Rafa mengetahui bisnis gelapnya, Agus berusaha membunuh Rafa (tokoh utama dalam situasi genting). Di puncak pertikaian, ketahuan bahwa Rafa dan Agus saudara sebapak tapi lain ibu (plot twist besar). Lalu Agus dikalahkan Rafa dan Rafa jadian dengan Yayuk (selesaian, ending).
Misalnya seperti itu. Mau dicontoh juga monggo…! Yang jelas, itu tulis dalam bentuk sinopsis panjang dan tak perlu dengan bahasa yang baku dan bersih. Ini cuman bahan untuk diri kita sendiri. Mau ditulis tangan di bloknot pun bisa.
6-Menyusun Outline
Ini merupakan penjabaran lebih detail dari sinopsis. Mirip pembuatan storyboard berdasar skenario di produksi film. Bagi cerita di sinopsis menjadi bab, normalnya antara 15 hingga 25 bab, dengan tiap bab rata-rata bervolume 1.500 hingga 3.000 kata (5–10 halaman), kemudian tentukan adegan apa saja yang muncul dalam tiap bab.
Misal pada bab 1 Rafa bangun tidur lalu ditelpon Yayuk (untuk menggambarkan keakraban mereka); di bab 2 Rafa datang ke kantor dan bertemu Agus (perkenalan tokoh); dilanjut bab 3 tentang kegiatan Rafa sesudah jam kantor untuk jalan dan makan berdua dengan Yayuk (pengenalan tokoh lagi); dan seterusnya.
Outline membuat kerja penulisan nantinya terasa jauh lebih mudah karena ia berfungsi mirip itinerary sebuah perjalanan wisata. Ada jadwal kegiatan dan destinasi yang jelas di tiap titik, sehingga kita tidak blank habis ini ngapain.
7-Jam Nulis
Satu hal sepele namun krusial yang tak selalu dipunyai penulis pemula atau yang belum profesional adalah waktu menulis. Tak ada waktu menulis karena padatnya jadwal pekerjaan adalah keluhan utama yang kerap saya dengar mengenai mengapa mereka belum juga menulis.
Kalau mau tahu, waktu untuk nulis itu memang tak pernah ada, bahkan juga untuk kami para penulis pro. Kami selalu rutin menulis bukan karena seharian penuh ada waktu luang (yang bisa dipakai nulis), melainkan karena waktunya dibuat ada. Misal antara pukul 9–13 harus menulis entah dapat berapa kata atau paragraf, lalu dilanjut pukul 14–16, dan seterusnya.
Yang belum berprofesi nulis dan belum terbiasa nulis dalam jangka waktu lama bisa menetapkan waktu sekecil mungkin untuk menulis tiap hari. Bisa dimulai dari sekecil 10 menit, sebelum bobok. Sepuluh menit tak lama, hanya 600 detik. Dan tak harus membebani diri sendiri dengan target besar. Hanya memperoleh separo paragraf dalam 10 menit pun tak apa. Yang penting aktivitas ini dirutinkan menjadi satu habit, hingga nanti muncul “rasanya gatal kalau tak nulis tiap hari” sebagaimana “hati tak tenang bila belum salat” di dalam diri kita.
8-Gabung Komunitas
Bila perlu, gabung ke komunitas menulis sebelum memulai proyek besar jangka panjang. Banyak sekali komunitas berbasis medsos yang bisa diikuti kapan saja, dan bisa ikut sebanyak mungkin komunitas, tanpa perlu prosedur registrasi dan seleksi yang belibet. Cukup gabung dan baca-baca dulu peraturan komunitas sebelum ikut aktif di dalamnya.
Bertemu teman-teman yang memiliki minat yang sama membuahkan banyak hal bagus yang sangat keren. Kita bisa saling berbagi ilmu & pengalaman, saling memotivasi, dan kadang bisa menemukan cinta yang baru. Langsung atau tidak, itu menjadi bahan bakar yang penting bagi kelanjutan proyek nulis kita. Bahkan kisah-kisah di komunitasnya itu sendiri bisa dikisahkan menjadi satu novel yang bagus.
9-Tentukan Deadline
Ini yang jarang diingat, bahkan oleh saya sendiri.
Menentukan tenggat pekerjaan penting untuk memacu diri sendiri agar sungguh-sungguh bergerak. Soalnya kalau tidak, ya kita akan terlalu rileks menjalaninya. Bisa anytime tergusur hal lain yang (dirasa) lebih penting, dan lama-lama ilang dari prioritas dan bahkan ingatan (ealah… durung nulis rong sasi!).
Masa kerja wajar untuk satu novel setebal antara 100–200 halaman adalah tiga hingga lima bulan. Jadi jika kau hari ini mulai menulis bab 1, targetkan naskah harus selesai selambatnya akhir November atau awal Desember 2019. Jika perlu, terapkan hukuman pada diri sendiri andai target terlewat, seperti nraktir teman tiap hari selama seminggu nonstop. Demi menghindari itu jadi nyata, tentu mau tak mau target harus dipenuhi.
10-Mulai Nulis
Dan akhirnya, kita tiba di aspek terpenting penulisan novel, yaitu pekerjaan nulisnya itu sendiri. Jangan kayak saya, yang selalu bilang ke teman “Novelnya udah jadi kok, tinggal diketik…”!
Lingkungan yang sesuai sangat diperlukan untuk kelancaran proses ini, dimulai dari meja kerja khusus. Jangan biasakan mengetik di meja makan, apalagi meja kafe! Ini mah cuman gegayaan biar kelihatan kalau kita penulis. Kamar kerja harus tenang seperlunya (sebab ada juga yang bisa nulis lancar justru dengan memutar musik) dan steril dari gangguan.
Ini maksudnya tak hanya gagguan eksternal (anak masuk kamar minta ditemani main, atau paca ngrusuhi ajak yang-yangan!), tapi juga internal diri sendiri. Taruh ponsel dalam mode sunyi dan abaikan hingga jadwal jam nulis hari ini terpenuhi. Syukur-syukur susah berhenti sehingga ada extra time.






